Wednesday, September 23, 2015

Orang Kaya yang Tamak



Orang Kaya yang Tamak
(Karya: Erich Gilberth)
           
          Di sebuah desa, ada seseorang yang sangat kaya yang bernama Ahmad. Ia selalu memamerkan kekayaannya kesekeliling desa. Tiada kegiatan lain selain memamerkan hartanya. Ahmad hanya seseorang pengangguran dan masih bujang. Dia hanya menikmati harta yang tidak akan habis hingga 7 turunan. Ahmad hanya tinggal sebatang kara, hanya ditemani burung peliharaannya dan 2 orang pembantu. Dulu, dia sempat ditawarkan seorang juragan di desa seberang untuk menikahi anak perempuannya yang sudah menjadi perawan  tua. Namun, dengan sombongnya dan suara yang lantang ia berkata,” Kekayaaan mu tidak seberapa dengan kekayaan ku, padahal kau sebagai juragan termansyur di beberapa desa, tetapi harta yang kau miliki masih jauh dibawahku, jadi bagaimana mungkin aku menikahi anak mu yang tidak sederajat dengan ku.”

        Saat mendengar perkataan Ahmad yang sangat kasar itu . Juragan kaya itu langsung pergi tanpa pamit meninggalkan Ahmad yang masih duduk manis dan santainya dengan wajah sombongnya itu.

        Suatu hari, Ujang salah seorang pembantu Ahmad meminta gajinya yang sudah 3 bulan tidak diberikan. Tetapi Ahmad menanggapinya dengan acuh tak acuh. Sekali dua kali permintaan dari Ujang tidak ditanggapi oleh Ahmad sampai suatu ketika anak Ujang dikabarkan sakit parah dan sangat membutuhkan biaya yang sangat banyak untuk operasi. Tidak ada cara lain lagi, Ujang tetap mendesak Ahmad untuk mendapatkan haknya. Namun, Ahmad tetap tidak peduli, dia tetap sibuk dengan menghitung semua uangnya di ruang tamu. Ujang tak kehabisan akal, ia malah bersujud, memohon, menangis di hadapan Ahmad agar Ahmad mau dengan cepat memberikan gajinya yang sudah ditunggak 3 bulan.

        Ahmad sempat tidak peduli dan asik dengan dunianya, namun sikap Ujang yang sedari tadi menganggu pendengarannya karena suaranya dan mengahadang  pandangannya, akhirnya Ahmad bosan dan kasar ia berkat,” Berapa uang yang kamu butuhkan? Sedari tadi kamu hanya bisa merengek saja. Nih, ambil uang mu dan mulai sekarang kamu ku pecat. Aku sudah muak dengan sikap mu yang banyak nuntut, cerewet, tapi pekerjaannya masih saja tidak becus.Dasar tua Bangka. Sekarang pergilah kau dari hadapanku , kemasi semua barang mu , aku tidak ingin ada sisa barang yang berceceran di rumah mewah ku ini.”

        Ujan yang mendengarnya sudah tak tahan lagi, walau sebenarnya uang diberikan Ahmad hanya gaji untuk 2 bulan, tapi dia tak ingin berkomentar lagi, yang terpenting sekarang dia harus pergi dari rumah ini dan menyusul anaknya yang sedang sakit.

        Beberapa bulan kemudian  setelah kejadian pemecatan Ujang, Ahmad mendapat masalah yaitu beberapa dari warga desa yang sudah tak tahan lagi dengan sikap Ahmad dan warga itu membakar rumah Ahmad pada malam hari. Ahmad yang tertidur pulas dikasurnya sambil ditemani uang-uangnya yang berhamburan itu terbangun dan kaget saat mendengar suara riuh di luar sana dan dia merasakan hawa yang sangat panas.Ahmad sangat panik, ia berusaha keluar dari kamarnya, dan meminta bala bantuan untuk memadamkan si jago merah yang dengan lahapnya menghabisi sebagian rumah Ahmad.

        Saat bala bantuan datang dan api sudah padam ia baru teringat sesuatu, ia belum menyelamatkan markas rahasianya yang isinya semua harta yang ia miliki. Saat menyadari hal itu, rahangnya mengeras dan lari masuk kerumahnya untuk mengecek hartanya itu. Namun, semuanya sudah terlambat hartanya semua sudah ludes di lahap si jago merah. Sisa pakaian pun tidak ada. Ahmad sangat frustasi menerima semua hal itu karena ia sekarang jatuh miskin.

        Dari kejadian tersebut, maka dapat dismpulkan bahwa sikap Ahmad sangat tidak terpuji dan tidak boleh untuk ditiru karena selain sombong , ia juga bersikap kasar terhadap orang yang lebih tua dan pelit terhadap sesama.

0 comments