Orang Kaya yang Tamak
(Karya: Erich Gilberth)
Di sebuah desa, ada seseorang yang
sangat kaya yang bernama Ahmad. Ia selalu memamerkan kekayaannya kesekeliling
desa. Tiada kegiatan lain selain memamerkan hartanya. Ahmad hanya seseorang
pengangguran dan masih bujang. Dia hanya menikmati harta yang tidak akan habis
hingga 7 turunan. Ahmad hanya tinggal sebatang kara, hanya ditemani burung
peliharaannya dan 2 orang pembantu. Dulu, dia sempat ditawarkan seorang juragan
di desa seberang untuk menikahi anak perempuannya yang sudah menjadi
perawan tua. Namun, dengan sombongnya dan
suara yang lantang ia berkata,” Kekayaaan mu tidak seberapa dengan kekayaan ku,
padahal kau sebagai juragan termansyur di beberapa desa, tetapi harta yang kau
miliki masih jauh dibawahku, jadi bagaimana mungkin aku menikahi anak mu yang
tidak sederajat dengan ku.”
Saat mendengar perkataan Ahmad yang sangat kasar itu .
Juragan kaya itu langsung pergi tanpa pamit meninggalkan Ahmad yang masih duduk
manis dan santainya dengan wajah sombongnya itu.
Suatu hari, Ujang salah seorang pembantu Ahmad meminta
gajinya yang sudah 3 bulan tidak diberikan. Tetapi Ahmad menanggapinya dengan
acuh tak acuh. Sekali dua kali permintaan dari Ujang tidak ditanggapi oleh
Ahmad sampai suatu ketika anak Ujang dikabarkan sakit parah dan sangat
membutuhkan biaya yang sangat banyak untuk operasi. Tidak ada cara lain lagi,
Ujang tetap mendesak Ahmad untuk mendapatkan haknya. Namun, Ahmad tetap tidak
peduli, dia tetap sibuk dengan menghitung semua uangnya di ruang tamu. Ujang tak
kehabisan akal, ia malah bersujud, memohon, menangis di hadapan Ahmad agar
Ahmad mau dengan cepat memberikan gajinya yang sudah ditunggak 3 bulan.
Ahmad sempat tidak peduli dan asik dengan dunianya, namun
sikap Ujang yang sedari tadi menganggu pendengarannya karena suaranya dan
mengahadang pandangannya, akhirnya Ahmad
bosan dan kasar ia berkat,” Berapa uang yang kamu butuhkan? Sedari tadi kamu
hanya bisa merengek saja. Nih, ambil uang mu dan mulai sekarang kamu ku pecat.
Aku sudah muak dengan sikap mu yang banyak nuntut, cerewet, tapi pekerjaannya
masih saja tidak becus.Dasar tua Bangka. Sekarang pergilah kau dari hadapanku ,
kemasi semua barang mu , aku tidak ingin ada sisa barang yang berceceran di
rumah mewah ku ini.”
Ujan yang mendengarnya sudah tak tahan lagi, walau sebenarnya
uang diberikan Ahmad hanya gaji untuk 2 bulan, tapi dia tak ingin berkomentar
lagi, yang terpenting sekarang dia harus pergi dari rumah ini dan menyusul
anaknya yang sedang sakit.
Beberapa bulan kemudian
setelah kejadian pemecatan Ujang, Ahmad mendapat masalah yaitu beberapa
dari warga desa yang sudah tak tahan lagi dengan sikap Ahmad dan warga itu
membakar rumah Ahmad pada malam hari. Ahmad yang tertidur pulas dikasurnya
sambil ditemani uang-uangnya yang berhamburan itu terbangun dan kaget saat
mendengar suara riuh di luar sana dan dia merasakan hawa yang sangat
panas.Ahmad sangat panik, ia berusaha keluar dari kamarnya, dan meminta bala
bantuan untuk memadamkan si jago merah yang dengan lahapnya menghabisi sebagian
rumah Ahmad.
Saat bala bantuan datang dan api sudah padam ia baru teringat
sesuatu, ia belum menyelamatkan markas rahasianya yang isinya semua harta yang
ia miliki. Saat menyadari hal itu, rahangnya mengeras dan lari masuk kerumahnya
untuk mengecek hartanya itu. Namun, semuanya sudah terlambat hartanya semua
sudah ludes di lahap si jago merah. Sisa pakaian pun tidak ada. Ahmad sangat
frustasi menerima semua hal itu karena ia sekarang jatuh miskin.
Dari kejadian tersebut, maka dapat dismpulkan bahwa sikap
Ahmad sangat tidak terpuji dan tidak boleh untuk ditiru karena selain sombong ,
ia juga bersikap kasar terhadap orang yang lebih tua dan pelit terhadap sesama.
0 comments